Home / Budaya / Watu Gilang Watu Singayaksa

Watu Gilang Watu Singayaksa

Sumber Foto : www.ceritariyanti.wordpress.com

Petilasan Watu Gilang secara administratif berada di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Lokasi peninggalan situs sejarah ini berada di kawasan hutan Perhutani di perbatasan antara Kecamatan Pujon dan Ngantang. Untuk menuju ke Watu Gilang masih cukup sulit sehingga tempat wisata ini belum banyak diketahui oleh masyarakat umum.

Tetapi jalur paling dekat untuk ke Watu Gilang dapat ditempuh melalui Pujon menuju Pasar Mantung. Setelah melewati jembatan Mantung, Anda berbelok ke kanan jalan kemudian naik menuju Desa Ngabab. Dari Ngabab, Anda bisa bertanya pada penduduk setempat arah menuju Watu Gilang atau minta untuk diantar tukang ojek. Untuk sampai ke petilasan memang hanya dapat dicapai dengan kendaraan sepeda motor dengan menembus hutan. Jaraknya dari Desa Ngabab sekitar 6 kilometer dan dibutuhkan waktu sekitar setengah jam perjalanan kendaraan bermotor untuk sampai di areal petilasan Watu Gilang. Tetapi bila menggunakan ojek, Anda harus membayar cukup mahal yaitu sekitar Rp 50-60 ribu per orang dari Desa Ngabab ke Watu Gilang pulang pergi. Alangkah baiknya Pemerintah Kabupaten Malang membangun jalan menuju ke situs Watu Gilang ini. Tentunya bila ada akses jalan yang memadai, akan makin memudahkan wisatawan untuk mengunjungi situs Watu Gilang ini.

Untuk tiba ke area situs Watu Gilang, Anda harus ekstra hati-hati karena harus melewati jalan setapak yang hanya dapat dilintasi untuk satu sepeda motor saja. Jalur akan makin naik ke arah puncak bukit yang biasanya diselimuti
kabut tipis. Saat telah berada di pintu masuk Watu Gilang, akan langsung terlihat sebuah kuburan dan kolam kuno sudah menyambut para pendatang. Di depan situs itu sudah tersebar beberapa makam kuno dan sebuah tangga batu
persegi. Situs Watu Gilang jelas terlihat dengan bentuknya yang besar bagai tembok raksasa untuk benteng sebuah kerajaan. Terdapat sebuah jalan setapak yang menuju ke makam utama Mbah Semuo serta makam para tokoh lainnya. Dari makam-makam yang ada, hanya makam Mbah Semuo yang diberi semacam rumah-rumahan. Di samping komplek makam tersebut terdapat jalan setapak menuju Goa Dworowati yang berada di atas puncak gunung lainnya. Di sisi depan makam terdapat jalan kecil menuju puncak lainnya berjarak sekitar 50 meter dengan halaman sebuah jurang yang sangat dalam.
Banyak sekali makam di atas maupun di bawah area Watu Gilang. Keseluruhan makam itu memiliki nisan batu besar berbentuk persegi panjang. Dari mana batu-batu itu berasal, hal itu
juga masih menjadi misteri tersendiri. Akan tetapi berdasarkan temuan di sekitar hutan tersebut, masih terlihat ada batu besar seperti sisa letusan gunung berapi jaman kuno.

Sedangkan situs Watu Gilang sendiri merupakan sebuah tembok berupa tumpukan bebatuan setinggi empat meter dengan panjang sekitar 27 meter. Posisinya berada di atas puncak gunung dan berbatasan dengan Gunung Dworowati di sisi selatan. Jika digunakan sebagai benteng pertahanan, posisi prajurit Singhasari memang menguntungkan karena berada di puncak pegunungan di kawasan Gunung Dworowati. Di situs Watu
Gilang ini terdapat beberapa tulisan kuno berukuran besar yang terpampang di salah satu batu Watu Gilang. Para arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan pernah didatangkan ke situs Watu Gilang
ini untuk memecahkan misteri aksara kuno tersebut. Diharapkan dari aksara kuno ini mampu menguak pendiri dan maksud pembuatan situs Watu Gilang.
Bentuk tulisan di Watu Gilang itu berbeda dengan temuan pada seluruh situs di wilayah Jawa Timur. Di komplek situs Watu Gilang ini juga terdapat arca berukuran sangat besar.
Konon situs Watu Gilang merupakan bekas areal pertempuran antara pasukan Singhasari dan Kerajaan Kediri.
Penguasa Gelang-Gelang, Jayakatwang, menyerang ibukotaSinghasari yang diperintah oleh Kertanegara dari arah utara danselatan. Pasukan pertama menyerang dari arah utara untuk memancing pasukan Singhasari meninggalkan ibu kota. Sedangkan pasukan utama bergerak dari arah selatan ibukota Singhasari. Situs ini merupakan benteng terakhir Kerajaan Singhasari saat melawan Kerajaan Kediri. Selain itu menurut sesepuh di sana, juga terdapat
sebuah kawasan sumur beracun yang dipercaya bahwa semua makhluk hidup yang melintas di atas sumur racun ini akan mati. Bahkan, konon termasuk burung yang terbang di atasnya pun akan mati. Karena itu tidak ada burung
yang terbang di atas sumur itu. Tak jauh dari Watu Gilang, tepatnya di Desa Pujon Kidul, juga pernah ditemukan ribuan keping uang koin kuno di sebuah tebing di pekarangan belakang rumah penduduk. Kepingan koin diperkirakan berusia ratusan tahun dan diperkirakan peninggalan Dinasti Ching dan Dinasti Ming yang berkuasa pada abad ke-13 hingga abad ke-16. Uang koin kuno berbahan tembaga dan kuningan itu berbentuk bulat dan pada bagian tengahnya berlubang segi empat. Di salah satu sisinya tertera huruf China. Ribuan keping uang koin kuno itu secara keseluruhan diperkirakan seberat 50 kilogram karena begitu banyaknya jumlah koin. Konon, uang koin itu merupakan sisa-sisa dari peninggalan pasukan Kubilai Khan yang pernah menyerang Kerajaan Kediri pada tahun 1293.
Menurut juru kunci situs Watu Gilang, di tempat ini dimakamkan beberapa orang yang pernah disebut dalam sejarah. Makam paling utama adalah Mbah Semuo, yang menurut cerita penduduk desa setempat merupakan ayah dari Anglingdharma. Ada juga makam Singo Wareng, Ronggowuni, Kyai Ageng Gringsing, Ronggojati, Sutejo Anom, Rojo Mulyo, dan Mbah Melati yang merupakan murid Mbah Semuo. Bahkan konon terdapat makam Syeh Abdul Khodir Jaelani, Syeh Subakir dan Syeh Maulana Malik Ibrahim serta Ki Ageng Serang berada di kompleks makam Watu Gilang ini. Meskipun berada di areal perhutanan, komplek pemakaman ramai dikunjungi peziarah dari berbagai kota di Jawa, bahkan dari luar Jawa seperti Bengkulu dan Kalimantan. Kunjungan paling ramai terutama pada hari Kamis Kliwon. Saat itu dipastikan sejumlah orang akan datang ke makam Mbah Semuo.
Saat ini situs tersebut diurus oleh seorang juru kunci bernama Cukup Sudarsono, sekaligus merupakan tokoh spiritual setempat. Dia menjaga situs itu sejak tahun 1976 secara turun temurun dari kakeknya, Nitiseno. Pada tahun 1990-an, Cukup kemudian diangkat oleh BP3 Trowulan sebagai penjaga situs. Menurut juru kuncinya,
kebanyakan yang berziarah ke situs Watu Gilang ini untuk keberhasilan pekerjaan. Biasanya para pengunjung yang berziarah wajib membawa 10 bungkus bunga telon, minyak fanbo, dupa dan kemenyan madu merah per satu orang.

Sumber: www.lombafotoeksplorasi.blogspot.com www.kaskus.co.id

About Puspa Baresi

Announcer, Producer, Digital Team

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com