Home / Budaya / Tradisi Hohonjean

Tradisi Hohonjean

Masyarakat Kabupaten Cianjur mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah hohonjean –terutama bagi yang pada dekade tahun 1980 sampai 1990-an masih kanak-kanak. Namun kini, hohonjean terasa asing di telinga bahkan oleh anak-anak sekalipun.

Lalu apa itu hohonjean? Hohonjean itu naik becak bareng-bareng yang dinaiki bisa sampai enam orang anak kecil. Uniknya, naik becak bareng-bareng itu hanya ada pada setiap Idulfitri. Kegiatan hohonjean ini biasanya dilaksanakan selepas pelaksanaan Salat Idulfitri. Seusai musafahah (bersalam-salaman) di antara para jamaah, sejumlah becak sudah mangkal di jalan untuk mengikuti kegiatan ini. Anak-anak pun secara beramai-ramai turun ke jalan untuk mengikuti hohonjean.

Hal yang sangat mengesankan, ketika becak saling salip atau berpapasan suasana menjadi riuh. Terkadang hohonjean tak cukup satu kali, selagi masih ada uang “THR” maunya naik lagi, naik lagi.

Ada hikmah yang bisa dipetik dari tradisi hohonjean itu, yaitu semangat kebersamaan. Tentunya hal yang tak kalah penting adalah berbagi rezeki dengan tukang becak. Lewat hohonjean itulah penghasilan para tukang becak naik.

Tapi itu hanya cerita lalu, sebuah tradisi yang tak tercatat. Kini semuanya telah berubah. Tak terlihat lagi anak-anak yang riang gembira naik becak secara beramai-ramai tepat di hari Lebaran.

Entah karena zaman telah mengalami pergeseran, atau karena memang jalan raya di Kota Cianjur pada hari raya sekarang jadi lebih ramai. Sangat disayangkan memang tradisi hohonjean lenyap ditelan zaman.

Sumber : www.disparbud.jabarprov.go.id

About Puspa Baresi

Announcer, Producer, Digital Team

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com