Home / Budaya / Pemakaian Bahasa di Kayuagung

Pemakaian Bahasa di Kayuagung

Kecamatan Kota Kayuagung terdiri atas 11 kelurahan ; yaitu Kelurahan Kayuagung (asli ), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Mangunjaya, Sidakerda, jua-jua, Cintaraja, dan Tanjung Rancing, Serta 14 desa ; yaitu  Desa Bulu  Cawang, Lubuk Dalam, Banding Anyar, Anyar, Muara Baru, Kijang Ulu,Celika, Tanjung Menang. Bagian tersebut penutur Bahasa Kayuagung berada di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera  Selatan. Wilayah ini merupakan ibukota Kabupaten OKI. Penduduk utama penuturan Bahasa Kayuagung tergabung dalam suatu wilayah yang disebut morge siwe  ( marga sembilan ); yaitu sembilan kelompok masyarakat setingkat desa/ kelurahan di era sekarang. Sembilan marga tersebut adalah Kelurahan Kayuagung ( asli ), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sida kersa, dan jua-jua. Dengan demikian dari 11 kelurahan yang ada di kecamatan Kota Kayuagung, dua di antaranyalah yang bukan menjadi penduduk penuturan bahasa Kayagung, yaitu Kelurahan Kayuagung (asli) dan Tanjung Rancing. Selain di wilayah Kota Kayuagung Bahasa Kayuagung juga ada di wilayah lempuing dan Mesuji (masih di Kabupaten OKI). Hal ini bisa di maklumi karena berdasarkan sejarahnya wilaya Lempuing dan Mesuji merupakan jalur kedatangan orang-orang Kayuagung dari Lampung.
            Di wilayah Kabupaten  Ogan Komering Ilir (OKI) terdapat beberapa daerah, di antaranya adalah bahasa Kayuagung, Komering, Pedamaran, Melayu Palembang, Jawa, dan beberapa bahasa atau dialek lainya. Bahasa Indonesia juga dipergunakan secara luas, selain bahasa seperti bahasa Inggris dan Arab Yang penggunananya sangat terbatas. Kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI) beribukota di Kayuagung. Berdasarkan sejarahnya, wilayah ini didukung oleh apa yang oleh masyarakat setempat disebut dengan morge siwe ( atau Sembilan Marga). Marga di seantero Sumatera Selatan dikenal dengan suatu kawasan yang dahulunya setara di atas desa/ kelurahan. Saat ini wilayah morge siwe berada di bawah pemerintah administrasi Kecamatan Kota Kayuagung. Sembilan marga tersebut adalah Kelurahan Kayuagung (asli), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sidakersa, dan jua-jua.
A. Bahasa-bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia
            Di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung sebagai dari Kabupaten Ogan Komering ilir (OKI) yang menjadi pusat perekonomian, pusat pendidikan, dan pemerintahan di kabupaten ini, pada dasarnya berkembang bahasa Kayuagung yang terdeteksi oleh Summer Institute of Linguistics (SIL) berputaran 45,000 di tahun 1989, dan masuk dalam klasifikasi bahasa-bahasa Austronesia, Malayo- Polynesian, Lampungic, Abung ( http://www.ethnologne.com/show_languege.asp?code=vky ).  Dalam perkembangannya, bahasa Kayuagug menghadapi kondisi yang stagnan atau bahkan akan mengalami kemunduran atau penurunan jumlah penutur seiring dengan terdesaknya bahasa Kayuagung ini dalam percaturan kebebasan di wilayah sendiri. Bahasa Kayuagung sangat “ terancam” dengan keberadaan bahasa derah lain, yaitu bahasa Melayu (Palembang), selain bahasa indonesia mungkin nanti akhirnya bahasa asing (bahasa Inggris) ( Sudarmanto, 2009a; 2009b).
            Bahasa Kayuagung memang masih dipakai di wilayah atau kelurahan di Kecamatan Kota Kayuagung, atau di beberapa desa saja di wilaya Kecamatan Lempuing dan Mesuji. Akan tetapi pengunananya mulai sangat terbatas. Hal ini tampak pada pengunaan bahsa Kayuagung yang hanya dipakai oleh komunitas asli Kayuagung saja. Apabila di dalam pertemuan, forum, atau pembicaran-pembicaran tertentu yang mulai menghadirkan orang yang bukan berasal dari Kayuagung – atau di perkirakan tidak bisa berbicara bahasa Kayuagung – maka hampir bisa dipastikan akan nada alih kode (code swtching) ke bahasa derah lainnya yang lebih dominan, yaitu bahasa Palembang, atau malah ke bahasa Indonesia. Kesopanan dan menghormati lawan bicara alasan alih kode ini oleh masyarakat penutur bahasa Kayuagung. Bahasa Kayuagung masih dipergunakan di dalam rapat atau pertemuan di lingkungan Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), desa/kelurahan, atau Morge, meskipun juga tidak menutup kemungkinan bahasa-bahasa lain yang muncul dipakai pertemuan tersebut, misalnya bahasa palembang atau bahasa Indonesia. Akan tetapi untuk rapat resmi atau formal, terutama di lingkungan pemerintah kecamatan dan kabupaten, bahsa Indonesia telah menjadi bahsa resmi yang layak untuk dipakai.
            Bahasa Kayuagung masih lekat dipakai didalam acara lamaran seorang bujang kepada gadis. Hampir seluruh rangkaaian ‘ lamaran’, atau manjau (yang juga bermakna bertandang atau bertamu) ini masih menggunakan bahsa Kayuagung. Akan tetapi, pada saat resepsi pernikahannya, karena memperhatikan tamunya yang berenaka ragam latar belakang-justru bahasa yang dipergunakan adalah bahsa Indonesia. Perwara juga mengunakan bahsa indonesia untuk memandu rangkaian acara resepi pemerintahan. Acara ijab kabul pernikahan pun sudah mengunakan bahsa indonesia ( atau bahasa Arab). Mempelai laki-laki akan mendapatkan gelar baru atas pernikahan yang dijalaninya. Menurut masyarakat  Kayuagung sebagai masih mengikuti jalur patrlineal, di mana berkaitan dengan pemberian gelar ini hanya pihak laki-laki saja yang mendapatkan gelar sedangkan mempelai wanitanya tidak mendapatkan gelar. Pemberian gelar ini disebut masyarakat kayuagung dengan jejuluk. contah dari peberian jejuluk ini adalah nama aslinya saat lahir adalah Nawawi,Sedangkan nama jejuluk nya adalah Agung jaya/Agun Jaye/, orang Kayuagung memiliki kekhasan vokal /E / dalam bahasa nya. Contoh gelar yang lain adalah Cahaya Mukmin. Pemberian jejuluk ini makna yang menunjukan bahwa yang bersangkutan sudah menikah. Di kalangan keluarga besarnya, atau tetamu yang hadir dalam resepsi pernikahannya, mempelai laki-laki ini selanjutnya akan dipangkil dengan nama jejuluk nya, bukan lagi nama lahirnya.
            Meskipun bahasa Kayuagung seharusnya menjadi tuan rumah di negrinya sendiri, tetapi beberapa bahasa derah lainnya juga masih beredar di sana.
Media radio sedikit memiliki andil dalam pelestarian, atau setidaknya dalam pengunaan, bahasa kayuagung. Terdapat satu radio swasta yang ada di wilayah Kayuagung, yaitu Radio 90,4 Kayuagung FM. Ini adalah satu- satu radio swasta yang ada di sana, selain stasiun radio memiliki pemerintahan, yaitu RRI Palembang dan Radio swasta di Palembang yang terkadang masih bisa terpantau di Kayuagung. Dengan sifatnya yang menghibur, Kayuagung FM  mencoba mengakomodasi pendegar-pendegarnya pada radius yang terjangkau siaranan oleh radio ini. Jangkauan  siaran radio ini mencakup pendegaran yang berbeda-beda. Kondisi ini mengharuskan pengelola radio Kayuagung untuk mengakomodasi kebutuhan para pendegarnya, termasuk dalam hal bahasa. Bahasa atau dialek yang di coba untuk bisa diakomadasi adalah bahasa atau dialek Kayuagung, Pedamaran, Sirah Pulaupadang, Meranjat dan Pegangan, Jawa, dan Palembang. Misalnya, ‘apa itu’ dalam bahasa Indonesia, akan menjadi onyi aje// dalam bahsa Kayuagung, apo iko/apo iko/ dalam bahsa Pedamaran, ape itu/ape itu/dalam dialek Sirah Pulau Padang, ape itu/ape itu/dalam bahsa Meranjat atau Peagagan, apo iku/apo iku/dalam bahsa Jawa, dan apo itu/ apo/apo itu/dalam bahasa Palembang atau, contoh yang lain adalah kemane ngan/ kemane nan/ dari dialek Sirah Pulau Padang dan tekude niku/tekude niku/dari bahasa Kayuagung yang artinya dalam bahsa indonesia adalah’ ke mana kamu’
            Seperti yang di sampaikan sebelumnya, bahasa Kayuagung menjadi eksklusif di wilayah morge siwe saja. Tantangan atas keberadaan bahasa Kayuagung menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemilik bahasa penunturnya, pengaruh utama bahasa Kayuagung di wilayahnya sendiri adalah Palembang. Ketika keluar dari komunitasnya yang berbahasa Kayuagung, masyarakat Kayuagung akan langsung bersinggungan dengan bahsa Palembang, apabila lawan bicaranya teridentifikasi dari dari wilayah Sumatera Selatan, atau akan beralih langsung ke bahasa Indonesia apabila ada keraguan atas identitas kebahasan lawan bicanya. Bahasa Palembang begitu dominan dan menjadi lingua france dalam pergaulan dan komunikasi di sebagaian besar masyarakat Kayuagung (sudarmanto 2009a;2009b). Selain bahasa Indonesia yang dipergunakan secara resmi dan formal dalam interaksi pemerintahan, bahasa Palembang dipergunakan masyarakat dalam konteks yang tidak resmi dan formal. Di pasar, tempat-tempat keramaain, sekolah dan sebagainya, bahasa Palembang menjadi jembatan komunikasi yang paling banyak di pergunakan. Bahkan dalam kaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, bahasa Palembang di wilayah Kayuagung tetap menjadi yang dianggap paling memadai. Dalam hal pengiriman SMS (short messages service), misalnya, aku nak beenjukan salam untuk (aku mau memberikan salam untuk….)
B. BAHASA Asing
            Bahasa asing, terutama bahsa inggris, berkembang pesat dalam arus kebahsaan di wilayah Kayuagung. Hal ini di sinyalir karena adanya persepsi bahwa sesuatu yang berbauh asing terasa lebih bagus, lebih gengsi, lebih berkualitas, dan sebagainya sinyalemen seperti ini bisa jadi mempengaruhi sikap berbahasa masyrakat disana. Mulai pemunculan tulisan-tulisan bernuasa bahasa Inggris untuk memperkenalkan atau mempromosikan komoditasnya, misalnya Games Station, Gold Net, London Beauty Center, Paint Protection, dan sebagainya. Memang, sebagai sudah benar penulisnya. Akan tetapi, masih banyak juga di temukan kondisi – kondisi yang masih kurang benar.
            Kesalahan berbahasa yang banyak terjadi biasanya tersedia terjadi dalam ejaan penulisan. Karena adanya perbedaan tata tulis dengan tata pengucapan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menyebabkan penulis ejaan menjadi salah.misalnya, bacaan /’tuble *,tubeles*,atau bahkan cubles*. Contoh –contoh lainnya, diantara  adalah spere-part/sper part/ yang kadang ditulis dengan spar part *, juga dalam bahasa Inggris yang seharusnya di tulis accessories menjadi aksesoris *, aksesoris ( yang akan menjadi benar apabila yang di maksudkan dalam bahasa indonesia). Contoh nya adalah vocher/vawer/yang memiliki bentuk kesalahan vhocer *. Ditemukan juga bentuk cas accu yang diperkiraan mengacu pada ‘ menyetrum aki ( atau alat untuk menyimpan tenang listrik )’ yang mengadaptasi bahsa inggris charge – battery ( atau battery recharging ) bentuk buku shock/syok/ yang bermakna ‘kejut’ yang bisa jadi ditulis dengan schpock*, atau sox*, ball- joint / bol join / menjadi boljoint *, bolljoin *,bolljoin *, overharul yang bermakna ‘ pemeriksaan’ yang tertulis dengan overhoul *, overholl *,dan sebagainya.mungkinnya.mungkin masih ada lagi contoh-contoh lain untuk jenis kasus yang sama.
            Kadang di temukan juga kasus juga frasa gabungan antara bahasa inggris yang juga dipandang kurang pas.misalnya, Ogan technk*,strtes*dan cas ,oyong celluler *,counter Ninik Cellules *, pulsa  Electrik *, tampal tubless*, dan sebagainya.dalam satu tempat objek pengamatan ditemukan adanya dua kondisi yang bertolak belakang, satu kondisi bertulis “ raja “ specialist accu dan satunya lagi toko spesialis aki “raja” . dengan mendasarkan  pada tata bahasa bahasa Inggris, terdapat permasalahan pada kasus ke dua dengan mengikuti aturan tata bahasa indonesia menjadi  tata tulis yang benar.
            Pembicara lain tentang Bahasa Asing, dalam hal ini Bahasa Inggris, adalah dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah dasar bahasa asing ini juga sudah mempengaruhi nama penduduk di kayuagung ; seperti jakson,richard  , jimmy dan sebagai nya sebagai interpretasi dari kondisi ke bahasaan Bahasa Asing, terutama Bahasa Inggris, kaitan dengan nama-nama penduduk di wilayah Kayuagung adalah tergesernya identitas melayu (dengan identitas ke Arab-an atau ke Islam- annya ), karena seperti kita ketahui bahwa identitas melayu adalah identik dengan Arab atau Islam.
Penutup
            Situasi kebahasaan di Kayuagung bisa jadi juga terjadi di beberapa daerah lain dengan permasalahan yang kurang lebihnya sama . sebagai penutup tulisan ini, bisa di sampaikan beberapa poin penting berkaitan dengan sistem komunikasi verbal atau situasi kebahasaan di wilayah Kayuagung, yaitu bahwa (1) bahasa Kayuagung seharusnya mengembalikan kondisi untuk menempatkankan bahasa mereka di rumah mereka sendiri. Maksudnya adalah bahsa Kayuagung, di wilayah-wilayah persebrangan, semakin di pupuk kembangan dan di munculkan di luar lingkungan penuturannya. Tidak ada salah memperkenalkan lebih intensif lagi pengetahuan dan pemahaman tentang bahsa Kayuagung di luar lingkungan penuturannya, (2) pengaruh bahasa daerah lain, terutama bahsa Palembang, harusnya dijadikan sarana untuk memperkaya bahsa Kayuagung, sekaligus melestarikannya, dan jangan justru mengikisnya (3) bahasa asing, dalam hal ini bahsa Inggris, mestinya bukan hanya dipandang sebagai gengsi belaka. Penangan perihal bahsa asing ini harus mendapatkan porsi yang tepat.untuk mata pelajaran muatan lokal menurut hemat penulisan bahsa derah Kayuagung akan lebih berfaedah untuk di terapan daripada bahsa adanya permasalahn dalam proses pengajar bahasa di usia dasar, juga untuk lebih dini memunculkan indentitas  kebahsa daerah Kayuagung kepada siswa-siswa sekolah dasar.
                        Selain itu, sebagai catatan akhir diharapakan dengan indentifikas dan investarisasi sejumlah permasalahan kebahasan di wilayah Kayuagung, Kabupaten  Ogan Komering Ilir (OKI) ini nantinya, di harapkan menjadikan masukan yang sangat berguna di dalam mengidentifikasi dan menangani berbagai permasalahan kebahasan ( dalam konteks kelokalan sumatra selatan dan kenasionalan indonesia ) kepada pengambilan ke bijakan terkait.
Disampaikan Oleh : Budi Agung Sudarmanto
Disajikan dalam:
SEMINAR INTERNASIONAL HARI BAHASA IBU
DAN PRAKONGRES NASIONAL DUTA BAHASA
DI GEDUNG MERDEKA BANDUNG

About pengelola

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com